Strategi Mengalihkan Resistensi Lagu ‘Kicau Mania’ terhadap Lagu Nasionalis melalui Perkusi di KB Anggrek Landungsari
Keywords:
Anak Usia Dini, Kicau Mania, Lagu Nasionalis, Rhythmic BridgingAbstract
Penanaman nilai nasionalisme pada anak usia dini sering kali menghadapi hambatan berupa resistensi kultural akibat paparan habitus musikal lingkungan sekitar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses transisi sosiokultural anak dan mengidentifikasi tahapan strategi guru dalam mengalihkan resistensi terhadap lagu nasionalis melalui media perkusi. Menggunakan metode kualitatif dengan desain studi kasus potret sekilas (snapshot case study), riset ini dilaksanakan dalam satu kali pertemuan intensif di KB Anggrek Landungsari. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif pasif, wawancara mendalam pasca-sesi bersama guru kelas, dan dokumentasi aktivitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada awal sesi, anak-anak memanifestasikan resistensi dengan memplesetkan lirik lagu nasional menjadi ekspresi subkultur lokal ‘Kicau Mania’. Namun, melalui strategi Rhythmic Bridging menggunakan perkusi barang bekas kontekstual (galon mini dan botol kerikil), guru berhasil mendekonstruksi ritme lokal menjadi ketukan konstan 4/4 dan mensubstitusinya dengan lirik lagu nasionalis. Melalui aktivitas synchronous drumming, fokus kognitif anak beralih dari penolakan verbal menuju kesenangan kinestetik kolektif, sehingga resistensi vokal menurun drastis di akhir sesi. Penelitian ini memberikan kontribusi berupa paradigma baru dalam pendidikan karakter PAUD yang akomodatif-transformatif, serta memberikan implikasi praktis bagi pendidik untuk memanfaatkan media sekitar dalam melatih regulasi diri anak.


