IMPLEMENTASI PENGGUNAAN KOMPUTER SEBAGAI ALTERNATIF MEDIA PEMBELAJARAN TERHADAP PENINGKATAN KESIAPAN TES AKM BAGI KELAS 5 TINGKAT SEKOLAH DASAR ATAU SEDERAJAT
Pengertian AKM, Komponen-komponen dari literasi dan numerasi yang diukur pada AKM, Klasifikasi Kesiapan Komputer Sekolah untuk AKM, Spesifikasi Komputer Yang Dipakai, Pengisian Perbaikan TIK, Tantangan Terberat dalam Penyelenggaraan AKM tingkat SD
Kata Kunci:
Media pembelajaranAbstrak
Sebagai alternatif alat ukur UN, AKM berkomitmen menjadi tolok
ukur literasi dan numerasi, mengacu pada survei internasional yang umumnya diikuti
banyak negara. Bedanya, pelaksanaan AKM tahun 2021 hanya mengukur
keterampilan/kemampuan literasi dan numerasi, dilengkapi dengan survei karakter
dan survei lingkungan belajar. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
(Kemendikbud) telah menetapkan sendiri model penilaian berbasis komputer untuk
menggelar AKM nantinya. Pilihan ini tepat karena semua SD, SMP dan SMA/SMK
menargetkan jumlah siswa yang banyak. Jika saja jumlah peserta AKM diperkirakan
tetap 30 siswa per satuan pendidikan (masih dalam pembahasan), diperkirakan akan
ada 6,5 juta siswa, termasuk 4,4 juta siswa SD, 1,2 juta siswa SMP, dan 400.000
siswa SMA dan 05 juta siswa SMK akan mengikuti AKM. Meski ada ketidakpastian
jumlah 30 siswa di setiap jenjang, dan dirasa cukup kecil, terutama di jenjang SMP,
SMA, dan profesional, namun jumlah peserta AKM masih sangat besar. Bahkan
mobilisasi yang diperlukan dalam konteks pengujian pasca penempatan tentu tidak
sesederhana itu. Penerapan AKM berbasis komputer juga menjadi solusi untuk
menghilangkan masalah kebocoran dan penipuan, serta dapat mempersingkat proses
pendistribusian masalah yang sangat rumit dan lama. Namun sejauh ini penilaian
berbasis komputer masih memiliki beberapa permasalahan dan kelemahan teknis
yang harus segera diselesaikan. Mulai dari implementasi yang tidak seimbang akibat
infrastruktur yang kurang memadai, hingga kecepatan koneksi internet antar sekolah
dan daerah yang berbeda. Selain itu, sering terjadi masalah teknis, seperti komputer
server dan komputer klien tiba-tiba logout dan melambat, virus, dan jendela pop-up
browser sering muncul. Tak hanya itu, bagi kalangan ekonomi menengah ke bawah di
desa-desa terpencil, tentunya mereka menganggap laptop sebagai barang mewah.
Tetapi dengan mengubah variabel kehidupan perkotaan, memiliki komputer laptop
mungkin menjadi hal yang biasa.Sebagai alternatif alat ukur UN, AKM berkomitmen menjadi tolok
ukur literasi dan numerasi, mengacu pada survei internasional yang umumnya diikuti
banyak negara. Bedanya, pelaksanaan AKM tahun 2021 hanya mengukur
keterampilan/kemampuan literasi dan numerasi, dilengkapi dengan survei karakter
dan survei lingkungan belajar. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
(Kemendikbud) telah menetapkan sendiri model penilaian berbasis komputer untuk
menggelar AKM nantinya. Pilihan ini tepat karena semua SD, SMP dan SMA/SMK
menargetkan jumlah siswa yang banyak. Jika saja jumlah peserta AKM diperkirakan
tetap 30 siswa per satuan pendidikan (masih dalam pembahasan), diperkirakan akan
ada 6,5 juta siswa, termasuk 4,4 juta siswa SD, 1,2 juta siswa SMP, dan 400.000
siswa SMA dan 05 juta siswa SMK akan mengikuti AKM. Meski ada ketidakpastian
jumlah 30 siswa di setiap jenjang, dan dirasa cukup kecil, terutama di jenjang SMP,
SMA, dan profesional, namun jumlah peserta AKM masih sangat besar. Bahkan
mobilisasi yang diperlukan dalam konteks pengujian pasca penempatan tentu tidak
sesederhana itu. Penerapan AKM berbasis komputer juga menjadi solusi untuk
menghilangkan masalah kebocoran dan penipuan, serta dapat mempersingkat proses
pendistribusian masalah yang sangat rumit dan lama. Namun sejauh ini penilaian
berbasis komputer masih memiliki beberapa permasalahan dan kelemahan teknis
yang harus segera diselesaikan. Mulai dari implementasi yang tidak seimbang akibat
infrastruktur yang kurang memadai, hingga kecepatan koneksi internet antar sekolah
dan daerah yang berbeda. Selain itu, sering terjadi masalah teknis, seperti komputer
server dan komputer klien tiba-tiba logout dan melambat, virus, dan jendela pop-up
browser sering muncul. Tak hanya itu, bagi kalangan ekonomi menengah ke bawah di
desa-desa terpencil, tentunya mereka menganggap laptop sebagai barang mewah.
Tetapi dengan mengubah variabel kehidupan perkotaan, memiliki komputer laptop
mungkin menjadi hal yang biasa.
Sebagai alternatif alat ukur UN, AKM berkomitmen menjadi tolok
ukur literasi dan numerasi, mengacu pada survei internasional yang umumnya diikuti
banyak negara. Bedanya, pelaksanaan AKM tahun 2021 hanya mengukur
keterampilan/kemampuan literasi dan numerasi, dilengkapi dengan survei karakter
dan survei lingkungan belajar. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
(Kemendikbud) telah menetapkan sendiri model penilaian berbasis komputer untuk
menggelar AKM nantinya. Pilihan ini tepat karena semua SD, SMP dan SMA/SMK
menargetkan jumlah siswa yang banyak. Jika saja jumlah peserta AKM diperkirakan
tetap 30 siswa per satuan pendidikan (masih dalam pembahasan), diperkirakan akan
ada 6,5 juta siswa, termasuk 4,4 juta siswa SD, 1,2 juta siswa SMP, dan 400.000
siswa SMA dan 05 juta siswa SMK akan mengikuti AKM. Meski ada ketidakpastian
jumlah 30 siswa di setiap jenjang, dan dirasa cukup kecil, terutama di jenjang SMP,
SMA, dan profesional, namun jumlah peserta AKM masih sangat besar. Bahkan
mobilisasi yang diperlukan dalam konteks pengujian pasca penempatan tentu tidak
sesederhana itu. Penerapan AKM berbasis komputer juga menjadi solusi untuk
menghilangkan masalah kebocoran dan penipuan, serta dapat mempersingkat proses
pendistribusian masalah yang sangat rumit dan lama. Namun sejauh ini penilaian
berbasis komputer masih memiliki beberapa permasalahan dan kelemahan teknis
yang harus segera diselesaikan. Mulai dari implementasi yang tidak seimbang akibat
infrastruktur yang kurang memadai, hingga kecepatan koneksi internet antar sekolah
dan daerah yang berbeda. Selain itu, sering terjadi masalah teknis, seperti komputer
server dan komputer klien tiba-tiba logout dan melambat, virus, dan jendela pop-up
browser sering muncul. Tak hanya itu, bagi kalangan ekonomi menengah ke bawah di
desa-desa terpencil, tentunya mereka menganggap laptop sebagai barang mewah.
Tetapi dengan mengubah variabel kehidupan perkotaan, memiliki komputer laptop
mungkin menjadi hal yang biasa.Sebagai alternatif alat ukur UN, AKM berkomitmen menjadi tolok
ukur literasi dan numerasi, mengacu pada survei internasional yang umumnya diikuti
banyak negara. Bedanya, pelaksanaan AKM tahun 2021 hanya mengukur
keterampilan/kemampuan literasi dan numerasi, dilengkapi dengan survei karakter
dan survei lingkungan belajar. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
(Kemendikbud) telah menetapkan sendiri model penilaian berbasis komputer untuk
menggelar AKM nantinya. Pilihan ini tepat karena semua SD, SMP dan SMA/SMK
menargetkan jumlah siswa yang banyak. Jika saja jumlah peserta AKM diperkirakan
tetap 30 siswa per satuan pendidikan (masih dalam pembahasan), diperkirakan akan
ada 6,5 juta siswa, termasuk 4,4 juta siswa SD, 1,2 juta siswa SMP, dan 400.000
siswa SMA dan 05 juta siswa SMK akan mengikuti AKM. Meski ada ketidakpastian
jumlah 30 siswa di setiap jenjang, dan dirasa cukup kecil, terutama di jenjang SMP,
SMA, dan profesional, namun jumlah peserta AKM masih sangat besar. Bahkan
mobilisasi yang diperlukan dalam konteks pengujian pasca penempatan tentu tidak
sesederhana itu. Penerapan AKM berbasis komputer juga menjadi solusi untuk
menghilangkan masalah kebocoran dan penipuan, serta dapat mempersingkat proses
pendistribusian masalah yang sangat rumit dan lama. Namun sejauh ini penilaian
berbasis komputer masih memiliki beberapa permasalahan dan kelemahan teknis
yang harus segera diselesaikan. Mulai dari implementasi yang tidak seimbang akibat
infrastruktur yang kurang memadai, hingga kecepatan koneksi internet antar sekolah
dan daerah yang berbeda. Selain itu, sering terjadi masalah teknis, seperti komputer
server dan komputer klien tiba-tiba logout dan melambat, virus, dan jendela pop-up
browser sering muncul. Tak hanya itu, bagi kalangan ekonomi menengah ke bawah di
desa-desa terpencil, tentunya mereka menganggap laptop sebagai barang mewah.
Tetapi dengan mengubah variabel kehidupan perkotaan, memiliki komputer laptop
mungkin menjadi hal yang biasa.
